Indikasi Pencurian Gas Jadi Penyebab Pipa Gas TGI di Riau Meledak, Produksi Minyak Blok Rokan Rontok

oleh
Petugas kepolisian dan pihak perusahaan TGI melakukan pengecekan pascakejadian ledakan dan kebakaran pipa gas, di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Sabtu (3/1/2026).(KOMPAS.COM/Dok. Polda Riau.)

JAKARTA – Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) mendapat informasi adanya pencurian gas dari pipa sebagai penyebab meledaknya pipa gas milik PT Trans Gas Indonesia di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kebupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau pada Jumat, 2 Januari 2026 lalu.

Meledaknya pipa gas itu, telah mengakibatkan kerugian negara yang bisa mencapai jutaan barel minyak mentah dari Blok Rokan sejak 2 Januari 2026 hingga waktu yang belum dapat dipastikan bisa kembali lagi ke awal posisi produksi Blok Rokan.

Pada saat awal terhentinya pasokan gas akibat ledakan itu ke PLTG Duri North 300 MW ex MCTN yang sejak tahun 2021 dikelola anak usaha PLN, produksi minyak Blok Rokan anjlok hingga 30.000 barel perhari dari seharusnya 165.000 barel perhari.

Jika pun suplai gas dari Jambi Merang dapat dipasok ke PLTG Duri North, mengembalikan produksi 165.000 barel perhari butuh waktu dan usaha yang tak mudah.

Kerugian akan semakin membesar jika terbukti hasil investigasi penegak hukum bahwa sebelum pipa meledak telah terjadi pencurian gas dari jaringan pipa tersebut, ini cilaka dua belas.

Tak hanya itu, menurut informasi yang diperoleh CERI, pada Jumat (9/1/2026), terjadi lagi kebocoran pipa gas jaringan milik PT TGI. Kebocoran itu terjadi sekitar 70 km dari lokasi ledakan di Desa Batu Ampar arah ke Riau. Kebocoran terjadi pada saat uji coba pengaliran gas setelah dilakukan perbaikan pada lokasi pipa terbakar itu.

Demikian diungkapkan Sekretaris CERI Hengki Seprihadi, Jumat (9/1/2026).

“Dari penelusuran kami, diperoleh informasi dari salah seorang mantan petinggi migas bahwa ada penyadapan pipa gas TGI selama ini yang dijual dan tidak dilaporkan atau tak terdeteksi adanya pencurian selama ini,” ungkap Hengki.

Atas informasi itu, kata Hengki, CERI telah memperoleh konfirmasi dari salah satu petinggi PT TGI yang tidak menampik adanya dugaan penyadapan dan pencurian gas itu.

“Petinggi PT TGI ini mengatakan, perusahaannya pun sedang melakukan investigasi melalui pihak ketiga dan telah menunjuk perusahaan load adjuster independen dan akademisi dari ITS atas kejadian itu. Investigasi itu dikatakan juga paralel dengan yang sedang dikerjakan Polda Riau,” terang Hengki.

Petinggi TGI itu menurut Hengki juga mengatakan jika ditemukan memang mengarah ke sana, maka pihaknya akan menindaklanjutinya.

PT TGI sendiri diketahui merupakan perusahaan patungan milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk dan Medco Energy.

Sementara itu, sebagaimana dilansir dunia-energi.com, Taufan Marhaendrajana, Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menjelaskan sejak awal pekan ini sebenarnya produksi minyak Rokan sudah mulai terkatrol.

“Ya (50 ribuan bph) tapi kemarin sudah naik ke 70 ribuan bph,” kata Taufan kepada Dunia Energi, Rabu (7/1/2026).

Muh. Taufan, Operation Head Subsurface Development & Planning  Zona Rokan, PHR pernah menjelaskan bahwa PHR membutuhkan gas sebesar 215 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

Namun realisasi suplai gas kurang dari yang dibutuhkan. Selain itu pembangkit listrik Duri dan Minas juga sudah terlalu tua sehingga tidak lagi efisien.

Selama ini pasokan gas untuk pembangkit listrik Rokan berasal dari Blok Corridor, Blok Jambi Merang dan Jabung.

“Ketersediaan gas selalu dibawah yang dibutuhkan. Kita memerlukan 215 BBTUD tapi cuma dapat 190-195 BBTUD. Rokan ada ketergantungan pihak eksternal,” ungkap Taufan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.