TIDAK ada seorangpun di dunia ini yang bebas dari gelombang digital dan segala sesuatu dikaitkan dengan atribut digital. Yang paling kental dalam kehidupan masyarakat adalah Media Sosial dengan berbagai bentuk pemanfaatannya yang salah satunya Pesan Singkat Cepat alias Instant Messenger yang menghubungkan segenap orang dan memungkinkan penyebaran informasi dalam berbagai bentuk.
Di dalam fenomena banjir informasi tersebut yang ternyata muncul gejala paradoksal yaitu Disinformasi alias Penyesatan akibat informasi yang menyesatkan atau keliru dengan berbagai alasan dan tujuan entah baik atau buruk.
Selain Media Sosial yang juga menggelora adalah Big Data alias kumpulan data dari berbagai sumber yang kemudian diolah untuk menghasilkan informasi atau pengetahuan. Dalam pemahaman ini layak dipahami strata atau piramid Data – Informasi – Pengetahuan – Kebijakan (DIPK) berikut ini (Peraga-1)

Data yang sering disebut dan dibaurkan sebagai informasi adalah informasi mentah yang miskin makna yang kemudian menjadi dasar untuk menyusun informasi bermakna. Agregasi atau kumpulan berbagai informasi yang saling berkaitan lantas menghadirkan pengetahuan atau knowledge yang selanjutnya menjadi rujukan dalam Kebijakan yang digunakan dalam pengambilan keputusan.
Hal kebijakan ini tidak selalu berdasarkan pengetahuan tetapi dapat berdasakan pengalaman atau intuisi serta insting. Demikianlah strata data tersebut selayaknya dipahami bukan semata pada pemanfaatannya tetapi juga dalam memilahnya.
Hal lain yang membahana adalah gelombang Kecerdasan Buatau atau Artificial Intelligence (AI) yang dipandang menggantikan kemampuan manusia untuk hal-hal yang tidak mampu diselesaikan dengan daya serta kemampuan berpikir manusia.
Namun yang tidak seutuhnya dipahami bahwa AI merupakan suatu proses menggunakan algoritma memanfaatkan sumber informasi yang tersedia yang belum dapat dikualifikasikan kesahihan atau kebenaran serta akurasinya. Dengan rumusan yang dikenal dalam proses pengolahan data komputer yaitu GIGO atau Garbage In and Garbage Out maka output dari proses AI dengan berbagai algoritma akan dapat menghasilkan sampah atau output yang menyesatkan. Namun demikianlah AI menggoda manusia bahkan mengandalkannya yang berarti menurunkan harkat berpikir manusia itu sendiri.
Era Digital dalam Realitas Perekonomian
Dengan keberadaan digital yang mulanya pada aspek binary 0 dan 1 (“tidak” dan “ya”) yang terus berkembang sejalan dengan teknologi informasi dengan inovasi serta kreativitas maka tidak dapat dihindari kehadiran suatu era atau masa yang sarat dengan berbagai produk dan layanan serta sistem yang berbasis digital.
Gelombang digital berkembang pesat sejak Dekade-2 XXI terutama pada sektor komersil dengan kehadiran platform serta aplikasi untuk bertransaksi berbagai barang dan jasa layanan (goods & services); namun pada sisi lain tidak dapat dihindari dampak serta akibat pada pemain lama sektor usaha komersial karena tidak dapat bersaing dengan sistem digital yang menjanjikan efisiensi serta produktivitas yang tinggi. Namun apakah benar berdampak pada perekonomian? Peraga-2 memberikan gambaran pertumbuhan ekonomi.

Dari gambaran tren pertumbuhan ekonomi pada Peraga-2 ternyata gelombang digital tidak memberikan bangkitan pada perekonomian global dan Indonesia. walaupun menjanjikan peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Apa yang salah dengan kehadiran gelombang digital? Apakah karena perang harga antar pemain atau faktor tenaga kerja dan pendapatan? Tentu tidak mudah untuk menelisik hal ini tetapi dengan fakta tren pertumbuhan ekonomi tersebut sulit berharap pada peningkatan kemakmuran atau prosperity jika pertumbuhan data (flat) atau bahkan turun.
Tentu temuan ini tidak langsung menjadi alasan untuk tidak mau menerima sistem digital atau bahkan menolak tetapi mungkin perlu penataan ulang walaupun sulit karena dalam sistem digital masing-masing pemain sangat independen dan merasa tidak memerlukan protokol alias self governance atau tata kelola sendiri.
Tidak mudah tetapi tantangannya pada para pelaku dan sistem serta pada sisi lain pemerintah sebagai regulator untuk melihat permasalahannya secara utuh dengan tidak semata menerbitkan peraturan atau perundangan.
Tantangan akan terus berlangsung pada ranah digital yang kental dengan kebebasan dan persaingan tetapi dari sudut pandang perekonomian makro sangat dampak serta manfaatnya minimum. Tren pertumbuhan yang datar atau bahkan turun tersebut jika berlanjut akan berdampak pada krisis global.
Tantangan Era Digital
Jika dari sisi perekonomian tidak banyak kontribusi dari sistem dan lingkungan digital tidak berarti berhenti karena sistem digital sudah merasuki berbagai sektor dan kehidupan manusia sehingga membutuhkan adopsi serta adaptasi yang dapat diterima semua pihak sehingga keberlanjutannya memberikan manfaat yang merata. Yang pasti dalam era digital, perekonomian berbagi (Sharing Ekonomi) berkembang dan memberikan peluang pemanfaatan aset serta kreativitas.
Perdagangan pada era digital dengan basis platform juga berbagai layanan akan memberikan peluang serta lapangan kerja yang berimplikasi pada pendapatan. Dalam keberlanjutannya layak untuk membangun dan mempersiapkan 3 (tiga) hal seperti yang diberikan pada Peraga-3.

1. Digilisasi atau Peradaban Digital berkaitan dengan aspek kehidupan serta behavior atau perilaku serta sistem nilai dalam masyarakat.
2. Digikrasi yang bukan seperti demokrasi dengan mengeliminasi keberpihakan atau partisanship dengan menata kekuasaan pada era digital yang kental dengan crowd
3. Digikualitas atau kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat di era digital yang tidak semata pada akses dan koneksi tetapi juga berkaitan dengan kesempatan dan peluang untuk menikmati era digital dengan berbagai peluang serta tantangannya.
Beberapa ciri dari Digilisasi sudah dapat dirasakan saat semua orang telah terhubung dan terkoneksi dengan arus informasi yang mengalir melalui media sosial. Selain perilaku yang sangat dipengaruhi media sosial juga realitas bahwa hampir 70% masyarakat akan hidup di kawasan perkotaan dan menjadi urban sebagai sentra pertumbuhan ekonomi.
Juga akan membentuk perilaku urban (urban life style) yang kental dengan komunitas, mobilitas, aksesibiitas juga leisure atau hiburan. Sementara dengan realitas urban yang terhubung dalam regional maupun global maka akan membentuk Komunitas atau Masyarakat Global (Global Society) yang saling berbagi informasi dan pengalaman.
Dari sisi sosial tentu komunalitas masyarakat akan sangat beragam dan simpul yang terbentuk akan sangat bergantung pada asal, profesi, kegemaran dan berbagai alasan. Sementara dari aktivitas perekonomian, ekonomi berbagi atau sharing economy yang diusung dengan berbagai aplikasi dan bentuk akan terus berlanjut walaupun akan juga mencul Digital Economy yang erat kaitannya dengan identitas atau identity yang pernah dikenal sebagai Block Chain. Entah bagaimana model tersebut akan berkembang dan memberikan manfaat tetapi hal tersebut merupakan dampak dari era digital.
Ancaman Perubahan Iklim akan tetap menjadi perhatian walaupun menghadirkan paradoks atau hal-hal yang aneh dan bertentangan pada permukaan bumi. Tidak gampang untuk menprakirakan Perubahan yang ditimbulkan dari Iklim dan masih sarat dengan Conundrum atau teka-teki bahkan ambiguitas seperti halnya kejadian banjir yang melanda wilayah Timur Tengah hampran yang sarat padang pasir.
Digicracy bukan semata evolusi dari demokrasi yang mana semua pihak merasa memiliki hak dan sikap keberpihakan (partisanship). Dalam digikrasi akan menjadi hal yang menarik jika memperhatikan faktor crowd alias kelompok yang terbentuk secara tertata atau secara sporadis akan menjadi faktor penting dalam pemerintah atau kekuasaan.
Dengan media sosial maka pengaruh akan memainkan peran penting dan faktor yang ikutan atau dikenal sebagai Bandwago Effect merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Sulit untuk memprakirakan model dan bentuk Digikrasi tetapi tetap perlu untuk penataan dan pengaturan.
Akan halnya kesetaraan yang menjadi penting dalam kehidupan manusia akan menjadi tantangan besar untuk mewujudkannya karena erat pada kesempatan untuk mendapatkan penghasilan atau pendapatan berdasarkan kesempatan yang dimiliki.
Sementara Digikrasi sulit untuk dibayangkan Digikualitas menjadi hal yang sama di tengah persaingan dan kompetisi yang akan semakin ketat dan pihak yang tidak mampu akan tersingkirkan. Mungkin layak mengingat kembali Survival of The Fittest tetapi apakah mereka yang tidak mampu untuk survival lantas akan tertinggal bahkan tersisihkan? Tidak sederhana untuk membayangkan hal ini tetapi bukan tidak mungkin dapat terjadi pada era digital dengan bumbu disparitas dan kemiskinan bahkan kelaparan akan dominan.
Krisis Era Digital
Fenomena masa lalu sepertinya akan berulang pada Era Digital dan Krisis Dekade merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Dalam kondisi Perubahan Iklim yang tidak dapat dihindari serta belajar dari Pandemi yang lalu dan berlanjut dengan mutasi virus, maka pada Era Digital pun akan terjadi hal yang serupa. Gambaran Krisis Dekade diberikan pada Peraga-4 di bawah ini.

Pada dekade mendatang beberapa hal yang diprakirakan akan terjadi antara lain :
1. Ketidakpastian dalam perekonomian global dengan fenomena yang dikenal sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam perdagangan global yang walaupun sudah diatur dengan protokol perdagangan selalu saja muncul konflik atau adu kepentingan yang kental dengan perang hegemoni atau dominasi seperti pada fenomena Trump Tariff.
2. Pandemi Disease-X yang bisa saja ditimbulkan oleh patogen baru atau mutasi dari virus yang lalu. Fenomena ini tidak dapat diabaikan atau dihindari.
3. Teka-Teki Transisi Energi dengan upaya keluar dari pemanfaatan fosil sepertinya sulit diwujudkan. Eliminasi fosil akan berdampak besar bagi negara-negara yang mengandalkan pendapatannya dari perdagangan energi fosil seperti di Afrika, Amerika Selatan / Latin, Timur Tengah, Asia Tengah. Dengan demikian niat mewujudkan Net Zero Emission sepertinya akan sulit diwujudkan.
4. Perubahan Iklim dengan efek domino pada kelangkaan Pangan Energi Air dan dalam hal ini teringat dengan Malthusian Catastrophe. Sebagai gambaran, fenomena krisis ini dapat dilihat pada kebutuhan yang melebihi kemampuan seperti diberikan pada Peraga-5

Pertumbuhan pesat populasi urban tidak dapat diimbangi dengan produksi pangan, energi dan pasokan air. Berdasarkan prakiraan maka pada dekade mendatang krisis itu berpotensi terjadi dan mengantisipasinya memerlukan pendekatan yang komprehensif.
5. Tekanan pada perdagangan global merupakan realitas akibat fenomena pasokan berlebihan dan akan menimbulkan efek spiral deflasi.
6. Gejolak nilai tukar mata uang dan bursa saham. Hal nilai tukar merupakan implikasi langsung dari perdagangan dan gejolak utang. Sementara gejolak pada bursa saham merupakan dampak dari kinerja dunia usaha yang terdampak kondisi global sehingga tidak dapat dihindari.
7. Gejolak suku bunga dan utang merupakan implikasi dari inflasi yang akan diredakan dengan meniakkan suku bunga. Tetapi dampaknya pada investasi yang akan bermasalah pada lapangan kerja. Sementara ledakan hutang akan terjadi pada korporasi akibat persaingan yang berdampak pada kinerja juga pada negara yang mengalami kesulitan dalam penerimaan negara atau pajak.
8. Ambruknya usaha rintisan merupakan implikasi langsung era digital yang mena persaingan ketat pada pasar dengan model bisnis usaha rintisan yang tidak memiliki diferensiasi pasti akan mendapatkan kesulitan untuk bertahan.
9. Ancaman Kejahatan Siber merupakan fenomena kejahatan pada dunia digital dengan berbagai penggunaannya. Fraud atau fake merupakan cara penipuan yang kental terjadi di dunia digital terutama pada FinTech.
10. Psikosomatis merupakan penyakit yang bukan disebabkan patogen tetapi faktor perilaku yang berdampak pada stres, nervous, gugup, gampang marah atau yang sejenisnya yang akan berimplikasi pada peredaran darang, jantung, lambung dan pencernaan dan berbagai penyakit lainnya.
Era digital sudah berada di depan mata dan tidak dapat dihindari bahkan secara tidak sadar sebagian sudah dijalani. Namun demikian berdasarkan dari penjelasan di atas maka sulit berharap akan dunia yang lebih baik bahkan dari beberapa indikator termasuk pertumbuhan sepertinya yang akan terjadi adalah Dismal World alias Dunia yang penuh keprihatinan bukan gembira atau sukacita.***
Pertengahan Agustus 2025
Arnold Mamesah
Afiliasi: MEBNI – IPKC – The HUD Institute



