KETIKA negara-negara di dunia tengah belomba mencari solusi untuk mensejahterakan dan memberikan perlindungan untuk memperoleh keadilan terhadap rakyatnya, tidak pernah terpikir oleh bangsa ini, para penyelenggara negara berlomba merampas hak politik, hukum dan ekonomi rakyatnya.
Negara yang merdeka didasarkan oleh nilai Pancasila, tetapi pemimpinnya berprilaku sebagai penjajah atas bangsanya sendiri. Sepuluh tahun di bawah rezim Jokowi, seluruh hajat hidup rakyat porak poranda akibat otoritarian personality Jokowi.
Bagaimana Jokowi memulai menapaki karirnya hingga duduk di singgasana kekuasaan negara, dengan kebohongan dan penghianatan terhadap negara. Baru enam bulan menjabat sebagai Walikota Solo, Jokowi membuka pintu bagi masuknya kepentingan AS, melalui kerjasama dengan dua agen CIA atas nama Pierangelo dan David S. Williams, untuk mengontrol keradikalan ustadz Abubakar Baasir.
Jokowi dinilai AS berhasil meredam keradikalan Abubakar Baasir, hal tersebut terbukti dari bocoran kawat diplomatik dari Dubes AS di Jakarta, Cameron R Hume kepada Pentagon sesuai bocoran website Wikileaks berjudul “Solo, From Radical To Tourist Heaven.”
Penundukan diri Jokowi pada permintaan agen CIA yang mendatangi dirinya adalah salah satu faktor yang membuat Amerika memutuskan Jokowi sebagai kandidat pemimpin boneka Amerika di Indonesia selanjutnya dan untuk itu Amerika memutuskan “mematangkan” Jokowi sebagai “calon pemimpin nasional” dengan mengirim Luhut Panjaitan.
Menjelang Pemilu, sekitar bulan Agustus 2014, menurut pengakuan seorang tokoh adat Papua Barat, Jokowi berkunjung ke Brisbane Australia, menemui Prof Damiens Kingsbury seorang ahli disintegrasi, dalam rangka menyerahkan dokumen proposal “Referendum Papua Barat”.
Sebagaimana diketahui bahwa reputasi Prof Damiens Kingsbury adalah Int’l Advisor dari Fretilin, saat jajak pendapat Timor Timor. Kingsbury juga int’l advisor untuk gerakan separatis di Indonesia seperti GAM dan OPM. Upaya Jokowi tersebut, jelas tindakan penghianatan terhadap kedaulatan Indonesia.
Bentuk kejahatan Jokowi terhadap negara dan bangsa Indonesia tidak berhenti di situ. Paska merebut kursi presiden RI, Jokowi secara terukur terus mengumbar kebohongan demi kebohongan yang mengakibatkan bangsa ini terbelah.
Lebih ironis lagi, Jokowi menggunakan strategi komunis, melemahkan pilar-pilar penyanggah kedaulatan negara yaitu Islam dan TNI serta membangun kekuatan perlawanan dengan membangun ssstem sel, melalui mempertahankan kelompok relawan sebagai ujung tombak kekuatan Jokowi.
Begitu terang-benderangnya kejahatan Jokowi terhadap negara dan bangsa Indonesia, tapi mengapa instrumen hukum dan keamanan yang berada di bawah kekuasaan Presiden Prabowo, masih menjadi garda terdepan pelindung Jokowi?Bahkan tidak segan-segan memberangus suara kebenaran yang datang dari rakyat.
Kepada bapak Presiden Prabowo, hendaknya berhati-hati, karena akan membayar mahal ketika membiarkan bola salju kemarahan rakyat terhadap Jokowi sang penghianat negara.***
Sri Radjasa MBA
Pemerhati Intelijen



