Menanti Pergantian Kapolri, Rakyat Rindu Polisi Melayani dan Mengayomi

oleh

KEABADIAN hanya milik Tuhan semata, selain dari itu semua pasti akan berakhir, termasuk jabatan Kapolri yang dijabat Jenderal Listyo Sigit, sekalipun dihiasi pernak-pernik duniawi untuk mempertahankan gemerlapnya kursi Kapolri, tapi ketika Allah SWT menetapkan berakhir, reduplah Listyo Sigit dengan segala atribut yang disandang.

Apa yang telah dikerjakan Listyo Sigit, menjadi catatan rakyat untuk disimpan pada prasasti perjalanan bangsa ini. Rakyat dengan jujur akan menempatkan Listyo Sigit hanya sebagai Kapolri atau patut disebut sebagai tokoh bangsa, seperti Jenderal Hoegeng yang namanya selalu tersimpan di sanubari bangsa ini.

Perjalanan panjang empat tahun, kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit, dengan konsep presisi, “prediktif, responsibilitas, transparansi dan berkeadilan”, jika parameter penilaian merujuk pada dua tugas pokok polisi yaitu melayani dan mengayomi, rasanya masih jauh panggang dari api.

Legacy yang ditinggalkan Listyo Sigit, adalah catatan buram yang menoreh kasus besar, mengakibatkan citra Polri terpuruk. Polri menjadi institusi penegak hukum yang mencoreng nilai demokrasi, dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada 2024. Polri dibiarkan hanyut terseret ke dalam orbit kekuatan politik penguasa.

Rakyat tersisih di sudut-sudut gelap dan kumuh, sementara Polri asik dengan memainkan peran sebagai centeng oligarki dan juragan politik. Potret Polri di bawah kepemimpinan Listyo Sigit, alih-alih melayani dan mengayomi, rakyat lebih merasa aman jika jauh dari polisi. Realita yang dirasakan masyarakat, kedekatan dengan polisi adalah musibah. Bahkan masih berlaku anekdot ‘Hilang kambing, lapor ke polisi akan hilang sapi”.

Peran melayani dan mengayomi, hanya terbatas dirasakan masyarakat kelas menengah ke atas. Keberhasilan Kapolri Listyo Sigit, sebatas memberi ruang bagi transformasi teknologi modern kepolisian, tapi tidak dimbangi dengan penguatan nilai etika moral personel polisi yang di nadinya mengalir ketetapan nilai Tribrata.

Satu nama yang digadang-gadang, telah dikantongi Presiden Prabowo, adalah sosok jenderal polisi bintang dua yang dekat dan memiliki hubungan historis dengan Presiden Prabowo.

Tentunya menjadi hak prerogatif presiden untuk menentukan Kapolri, termasuk pertimbangan kedekatan dengan calon Kapolri.

Terlebih lagi presiden Prabowo, telah mendiagnosa virus dan komplikasi yang diderita Polri. Maka presiden Prabowo telah mengantongi standar penilaian untuk menunjuk calon Kapolri pengganti Jenderal Listyo Sigit.

Pergantian pimpinan dalam suatu manajemen, adalah kebutuhan organisasi dalam rangka penyegaran, untuk menumbuhkan inovasi dan kreatifitas yang konstruktif. Satu nama yang sudah masuk dalam kantong Presiden Prabowo adalah Irjen Rudi Darmoko.

Nampaknya presiden Prabowo lebih memprioritaskan penilaian pada aspek kedekatan dengan calon Kapolri, mengingat Prabowo tidak ingin kecolongan yang berdampak carut marutnya penegakan hukum.

Sosok Irjen Rudi Darmoko memiliki darah anak kolong, karena orang tua Irjen Rudi adalah purnawirawan baret merah, tetapi wafat ketika Irjen Rudi masih berusia sekitar 12 tahun.

Informasinya sepeninggal orang tuanya, Irjen Rudi mendapat bantuan sekolah dari Prabowo Subianto. Kedekatan historis dan emosional antara Presiden Prabowo dengan Irjen Rudi, tentunya tidak diragukan lagi loyalitas Irjen Rudi terhadap Prabowo. Semoga Kepolisian Republik Indonesia menjadi polisi yang dicintai dan dinantikan kehadirannya oleh masyarakat.***

Sri Radjasa MBA

Pemerhati Intelijen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.