Refleksi 76 Tahun Merdeka Akhirnya Kapal NKRI akan Tenggelam

oleh

76 tahun yang lalu tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 negara ini dimerdekakan, melalui proses panjang yang penuh dengan perjuangan banyak pahlawan dan Suhadah yang meninggal mengorbankan Harta, Nyawa, yang tiada tara.

Perjuang panjang itu tentusaja melalui proses yang panjang mengalami suka dan duka , oleh sebab itu sejarah adalah guru terbaik bagi bangsa ini sejarah adalah kaca benggala untuk melihat masa depan tidak ada arti nya peringatan proklamasi kemerdekaan republik Indonesia ketika apa yang sudah diletakan dasar nya oleh pendiri negeri ini kita khianati .

Sejak pengkhianatan terhadap Pancasila dan UUD 1945 negara ini semakin terpuruk , semua tatanan yang sudah di bangun di porak porandakan dengan mengamandemen UUD 1945 dan menghilangkan Penjelasan UUD 1945 itu arti nya menghilangkan pokok-pokok pikiran Yang ada di pembukaan UUD 1945.

Kita tidak perna konsisten terhadap kesepakatan pendiri bangsa ini , UUD 1945 yang disahkan oleh PPKI tidak perna di jalankan dengan benar , UUD 1945 sejak disahkan beberapa bulan kemudian sudah terjadi penyelewengan , penyelewengan pertama adalah muncul nya perdana mentri dalam ketatanegaraan kita padahal tidak ada satu pasalpun didalam UUD 1945 perdana menteri , kemudian muncul Maklumat X wakil Presiden yang memunculkan partai politik padahal tidak ada didalam UUD 1945 itu satu pasal pun tentang  partai politik bahkan di dalam DPR tidak ada penjelasan UUD 1945 tentang DPR harus diisi oleh partai politik.

Kemudian muncul RIS, setelah itu UUDS 1950, Kontituante ribut terus untuk membuat UUD yang tidak perna kesampaian sebab PKI ada di dalam Konstituante didalam BPUPKI, PPKI itu Komunis tidak menjadi anggota, sebab selama ini PKI ingin mendirikan negara sendiri berdasarkan Komunis pemberontakan PKI tahun 1948 adalah pengkhianatan disaat bangsa ini sedang menghadapi Sekutu dan Belanda membonceng terjadi perang Clas PKI menikam dari belakang di Madiun pemberontakan PKI yang membantai para ulama di Madiun sangat menyakitkan dengan kesadisan nya hingga pesantren Takeran di Magetan banjir dara.

Dekrit Presiden Pun di kumandangkan tanggal 5 Juli 1959 Kembali ke UUD 1945 yang dijiwai oleh piagam Jakarta uud 1945 dijalankan tetapi tetap saja di khianati dengan muncul nya Nasakom terlepas dari apapun jelas ini pengkhianatan terhadap Pancasila .

PKI semakin tumbuh dan sudah barang tentu ingin merebut Indonesia menjadi negara berpaham Komunis pecahlah pengkhianatan G30 S PKI pembunuhan terhadap para jendral ,dan aksi-aksi licik PKI yang sudah masuk pada semua lini kekuasaan akhir nya kudeta melalui pemberontakan 30 September 1965 bisa digagalkan dan PKI bisa dibubarkan .

Memasuki Orde Baru UUD 1945 tidak dijalankan sepenuh nya , terjadi penyimpangan disana sini keanggotaan MPR diatur oleh penguasa sehingga utusna Daerah diisi oleh apa mau nya penguasa.

Orde Reformasi ternyata lebih buruk dari jaman Orde Baru sebab UUD 1945 bukan hanya tidak dijalankan malah UUD 1945 di amandemen sistem politik yang dijalankan Liberal Kapitalisme maka kekuasaan di perebutkan dengan pertarungan, kuat-kuatan, kalah menang curang –curangan kaya-kaya an dan disinilah kesempatan anak-anak PKI telah masuk disegala lini , kekuatan nya lebih kuat di banding jaman tahun 1965 , semua lini dikuasai dengan didukung oleh Partai Komunis China hampir sebahagian besar partai Politik belajar pada Partai Komunis China bahkan PDIP mengirim kader untuk belajar pada Partai Komunis China padahal sudah jelas Tap MPR NO XXV tahun 1966 masih belum dicabut. Partai-partai politik sudah melanggarnya.

Negara sudah berada di cengkeraman China tanpa harus susah paya akhir nya Indonesia dikuasai dengan Hutang Infrastruktur , pengerukan tambang-tambang bahkan mendatangkan tentara China untuk bekerja di pulau-pulau menggarong  kekayaan ibu pertiwi.

Bagaimana tenaga kerja China itu bukan tentara di China itu ada wajib Militer jadi mereka yang datang ke Indonesia sudah Jelas mantan tentara , mereka sangat siap bagaiman hal demikian menteri pertahanan tidak menyadari ada nya kewaspadaan nasional , kita yang bukan militer saja sudah merasakan adanya kelengahan terhadap kewaspadaan Nasional.

Secara sistemik dan Masif paham komunis sudah menguasai lembaga-lembaga negara ,seperti tahun 1965 walau mereka tidak lagi mengibarkan bendera PKI tetapi dikuasai nya lembaga parlemen dan kekuatan dana untuk membeli partai politik hal ini perna di suarakan Oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo bawah partai politik sudah di beli oleh Oligarkhy kekuasaan .tidak sampai 50 Triliun untuk membeli DPR sungguh miris melihat keadaan saat ini .

Langkah berikut nya RUU HIP dan RUU BPIP sudah di depan hidung kita apakah negeri ini akan menjadi Negara Republik  Komunis Indonesia NRKI atau akan terjadi Blunder yang bisa membalikan keadaan jika kita melihat ada nya mereka yang sadar melihat kapal Indonesia yang akan tenggelam Kemudian Prof Din Samsudin dengan tokoh-tokoh lain membuat kapal Nuh sebagai kapal penyelamat ,kira nya didaerah-daerah perlu juga membuat sekoci-sekoci untuk ikut menyelamatkan Kapal Indonesia diusia nya yang ke 76 akan tenggelam .apakah Indonesia hanya berumur 76 tahun ? semua tergantung Kesadaran Rakyat Indonesia , Bung Karno perna berkata : Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadikan 1 Juni Hari Lahir nya Pancasila adalah sebuah scenario untuk mendasarkan BPIP menjadi Polit Biro yang menguasai Ideologi Pancasila .Jika kita baca draft RUU BPIP maka yang pertama justru Pidato 1 Juni Soekarno menjadi konsederan padahal BPUPKI dan PPKI tidak perna mengeluarkan keputusan 1 Juni itu adalah lahir nya Pancasila.

Kemudian muncul Kepres no 24 tahun 2016 yang menjadikan Pidato 1 Juni sebagai hari lahir nya Pancasila , tentu saja hal demikian perlu dilakukan koreksi sebab Bung Karno sendiri tidak perna mengatakan dia pencipta Pancasila , kalau Pancasila lahir 1 Juni siapa yang melahirkan ? siapa yang menciptakan ?

Baca Juga :   Oversupply LNG dan Kerugian Negara

Kita perlu membaca lagi Kursus Pancasila Bung Karno agar kita tidak ngawur seperti Kepres No 24 Tahun 2016 itu .

Apa sebab Negara Republik Indoneaiq Berdasarkan Panca Sila?

Cuplikan  Amanat PJM Presiden Soekarnopada tanggal 24 September 1955di Surabaya

……….. “ Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka-aneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh Saudara-saudara yang beragama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh saudara saudara yang beragama lain, – yang bisa diterima oleh saudarasaudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian saudara.

Aku tidak mencipta Panca SilaSaudara-saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. Ini adalah satu ajaran yang dari mula-mulanya kupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah – jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri.

Selamilah sedalam-dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam-dalamnya bumi daripada sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cemerlang tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.

Aku oleh sekolah Tinggi Universitas Gajah Mada dianugerahi titel Doktor Honoris (titel Doktor kehormatan) dalam ilmu ketatanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Doktor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno, kami menghadiahkan kepada saudara titel kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Panca Sila”.

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima titel Doktor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Panca Sila”.

Aku bukan pencipta Panca Sila. Panca Sila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Panca Sila daripada buminya bangsa Indonesia. Panca Sila terbenam di dalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, aku gali kembali dan aku sembahkan Panca Sila ini di atas persada bangsa Indonesia kembali.

Tidak benar Saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia – sebenarnya telah mengenal akan – Panca Sila? Tidakkah benar kita dari dahulu mula, telah mengenal Tuhan, hidup di dalam alam Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah mengUu-aikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru. Bukan karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan.

Yah kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agama-agama. Disempurnakan oleh Agama Islam, disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? Hidup di dalam alam kebangsaan?

Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai engkau pemuda-pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke-2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusurno? Tahukah Saudara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada persamaan perkataan Mataram itu misalnya perkataan Mutter di dalam bahasa Jerman – Ibu. Mother dalam bahasa Inggeris – Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda – Ibu. Mater dalam bahasa Latin – Ibu. Mataram berarti Ibu.

Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsaan yang berkobar-kobar di dalam dada kita?

Yaah kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan kelapa, jikalau belum scgenap kepulauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta daripada kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!

Pemimpin besar sekadar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanapun juga, – bisa membentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke, – bahkan sampai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil – pemimpin gurem atau pemimpin yang bagaimanapun, – tetapi jikalau ada orang yang berkata: “Bung Karno yang mengadakan negara Republik Indonesia”. Tidak benar!!! Janganpun satu Soekarno sepuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno – tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak berjuang mati-matian!”

Kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan segenap rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, – tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalankan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat di dalam daerah-daerah yang kukunjungi, di manapun aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian-bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan di mana-mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 November tahun 1945, siapa yang berjuang di sini?

Baca Juga :   Divisi Humas Polri Merusak Citra Polri di Mata Masyarakat dan Dunia Internasional

Segenap pemuda-pemudi, kiai, kaum buruh, kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat,golongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu, demikian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini, satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tentang orang-orang ahli sejarah yang bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu, kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama-agama yang kemudian.

Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tat Twam Asi”. Apa artinya Tat Twam Asi? Tat Twam Asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tat Twam Asi – perikemanusiaan.

Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhu kifayah, kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya jikalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur, – siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan daripada dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili daripada sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggung jawab.

Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih daripada segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Hebs U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.

Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledakkan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerakan nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan social, – bukan cita-cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!

Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial. Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan, – Saudara-saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda, – semboyannya selalu “Ratu Adil”,ratu adil para marta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrungnya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula.

Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa maupun Kebangsaan, maupun Perikemanusia-an, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang menciptakan. Aku sekadar menggali sila-sila itu. Dan sila-sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat. Inilah Saudara-saudara, maka di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyousakai di dalam zaman Jepang, pertengahan tahun 1945 telah diadakan satu sidang daripada pemimpin-pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal-hal ini.

Pertama apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata “harus berdasarkan satu falsafah”. Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah Dunia ini banyak sekali negara-negara yang tidak berdasar, lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup bagi rakyatnya.

Kita melihat negara-negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup dengan sedih kita melihat bahwa negara-negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.

Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu memutuskan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mempersembahkan Panca Sila. Dan syukur Alhamdulillah sidang menerimanya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai.

Dan aku berkata oleh karena dasar ini – segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut proklamasi itu dengan gegap-gempita. Disambut oleh kaum alim ulama, disambut oleh kaum buruh, disambut oleh kaum tani, disambut oleh Saudara-saudara yang berdiam di Aceh, disambut oleh Saudara-saudara yang berdiam di Minangkabau, disambut oleh Saudara-saudara yang berdiam di Flores, disambut oleh Saudara-saudara yang berdiam di Kalimantan, disambut oleh Saudara-saudara yang berdiam di Bali, disambut oleh segenap rakyat Indonesia.

Jadi usaha untuk mereduksi Panca Sila hanya didasarkan pada pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang kemudian oleh Presiden melalui Kepres menjadikan Lahir nya Panca Sila 1 Juni perlu di gugat sebab mereka yang menjadikan lahir nya Panca Sila 1Juni sesungguh nya tidak memahami sejarah Panca Sila dan ajaran Bung Karno .

Rupa nya agen-agen Liberalisme , Kapitalisme , dan ditunggangi  Komunisme telah memporak porandakan sistem negara berdasarkan Pancasila dengan merubah sistem MPR menjadi sistem Presidenseil , setelah anak-anak turunan Komunis menduduki DPR baru mereka bergerak dengan menyusup Rancangan RUU HIP dan RUU BPIP , BPIP mereka akan menjadikan nya semacam polit biro seperti di Partai Komunis China oleh sebab itu pintu masuk yang pertama mereka lakukan adalah dengan kepres no 24 tahun 2016 Hari Lahir nya Pancasila , maka atas dasar Pancasila 1 Juni itulah mereka merancang RUU HIP dan RUU BPIP , kedua RUU ini adalah sama saja tujuan nya jelas memberikan legalitas BPIP yang akan menjadi polit biro seperti di partai Komunis ini bisa kita baca pada Tugas BPIP pada RUU BPIP pasal 7.

  • Merumuskan arah kebijaksanaan pembinaan Ideologi Pancasila .
  • Melaksanakan koordinasi dan singkronisasi
  • Mengintegritaskan fungsi Pembinaan Ideologi Pancasila secara menyeluruh berkelanjutan .
  • Melembagakan nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan nasional ,ilmu pengetahuan dan teknologi ,kegiatan riset dan inovasi .
  • Melembagakan nilai-nilai Pancasila dalam sistem Pembangunan Nasional
  • Melembagakan nilai-nilai Pancasila dalam sistem Politik yang demokratis .
  • Melembagakan nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan pelaksanaan ,dan penegakan hukum serta politik luar negeri .
  • Menyusun materi dan Metodologi ,monitoringdan evaluasi pelaksanaan pembinaan Ideologi Pancasila.
  • Menysun dan menetapkan standarisasi pendidikan dan pelatihan
  • Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dan
  • Memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap pembentukan ,pelaksanaan ,dan penegakan hukum serta kebijakan kepada lembaga-negara , kementrian /lembaga pe,erintah daerah ,organisasi solial ,dan elemen masyarakat lain nya agar berpedoman dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Baca Juga :   Terbukti! Pemerintah dan DPR Arogan dan Ceroboh Dalam Membentuk UU Cipta Kerja!

Dari pasal 7 ini kita bisa membaca begitu besar nya kewenangan BPIP yang bisa masuk pada lembaga-lembaga negara , dan menafsirkan Ideologi Pancasila secara sepihak .

Apa ideologi Negara berdasarkan Pancasila ? didalam RUU HIP maupun RUU BPIP tidak perna jelas apa itu ideologi negara berdasarkan Pancasila ? .seakan Ideologi Pancasila itu bisa di tafsir oleh siapa saja  padahal pendiri negeri ini sudah jelas meberikan tafsir Pancasila itu pada Batang Tubuh UUD 1945 dan Penjelasan nya .

Mari kita buka sejarah mengapa sistem negara ini menolak Individualisme , Liberalisme , Kapitalisme

……..” Toean-toean dan njonja-njonja jang terhormat. Kita telah menentoekan di dalam sidang jang pertama, bahwa kita menjetoedjoei kata keadilan sosial dalam preambule. Keadilan sosial inilah protes kita jang maha hebat kepada dasar individualisme.

Tidak dalam sidang jang pertama saja telah menjitir perkataan Jaures, jang menggambarkan salahnja liberalisme di zaman itoe, kesalahan demokrasi jang berdasarkan kepada liberalisme itoe.

Tidakkah saja telah menjitir perkataan Jaures jang menjatakan, bahwa di dalam liberalisme, maka parlemen mendjadi rapat radja-radja, di dalam liberalisme tiap-tiap wakil jang doedoek sebagai anggota di dalam parlemen berkoeasa seperti radja. Kaoem boeroeh jang mendjadi wakil dalam parlemen poen berkoeasa sebagai radja, pada sa’at itoe poela dia adalah boedak belian daripada si madjikan, jang bisa melemparkan dia dari pekerdjaan, sehingga ia mendjadi orang miskin jang tidak poenja pekerdjaan. Inilah konflik dalam kalboe liberalisme jang telah mendjelma dalam parlementaire demokrasinja bangsa2 Eropah dan Amerika.

Toean-toean jang terhormat. Kita menghendaki keadilan sosial. Boeat apa grondwet menoeliskan, bahwa manoesianja boekan sadja mempoenjai hak kemerdekaan soeara, kemerdekaan hak memberi soeara, mengadakan persidangan dan berapat, djikalau misalnja tidak ada sociale rechtvaardigheid jang demikian itoe? Boeat apa kita membikin grondwet, apa goenanja grondwet itoe kalau ia ta’dapat mengisi “droits de l’homme et du citoyen” itoe tidak bisa menghilangkan kelaparannja orang jang miskin jang hendak mati kelaparan. Maka oleh karena itoe, djikalau kita betoel-betoel hendak mendasarkan negara kita kepada faham kekeloeargaan, faham tolong-menolong, faham gotong-royong, faham keadilan sosial, enjahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme dari padanja.

Toean-toean jang terhormat. Sebagai tadi poen soedah saja katakan, kita tidak boleh mempoenjai faham individualisme, maka djoestroe oleh karena itoelah kita menentoekan haloean politik kita, jaitoe haloean ke-Asia Timoer Rajaan. Maka ideologie ke-Asia Timoer Raja-an ini kita masoekkan di dalam kenjataan kemerdekaan kita, di dalam pemboekaan daripada oendang-oendang dasar kita…….

Toean2 dan njonja2 jang terhormat. Kita rantjangkan oendang-oendang dasar dengan kedaulatan rakjat, dan boekan kedaulatan individu. Kedaulatan rakjat sekali lagi, dan boekan kedaulatan individu. Inilah menoeroet faham panitia perantjang oendang-oendang dasar, satoe-satoenja djaminan bahwa bangsa Indonesia seloeroehnja akan selamat dikemoedian hari. Djikalau faham kita ini poen dipakai oleh bangsa-bangsa lain, itoe akan memberi djaminan akan perdamaian doenia jang kekal dan abadi.

…………. Marilah kita menoendjoekkan keberanian kita dalam mendjoendjoeng hak kedaulatan bangsa kita, dan boekan sadja keberanian jang begitoe, tetapi djoega keberanian mereboet faham jang salah di dalam kalboe kita. Keberanian menoendjoekkan, bahwa kita tidak hanja membebek kepada tjontoh2 oendang2 dasar negara lain, tetapi memboeat sendiri oendang2 dasar jang baroe, jang berisi kefahaman keadilan jang menentang individualisme dan liberalisme; jang berdjiwa kekeloeargaan, dan ke-gotong-royongan. Keberanian jang demikian itoelah hendaknja bersemajam di dalam hati kita. Kita moengkin akan mati, entah oleh perboeatan apa, tetapi mati kita selaloe takdir Allah Soebhanahoewataala. Tetapi adalah satoe permintaah saja kepada kita sekalian:

Djikalau nanti dalam zaman jang genting dan penoeh bahaja ini, djikalau kita dikoeboerkan dalam boemi Indonesia, hendaklah tertoelis di atas batoe nisan kita, perkataan jang boleh dibatja oleh anak-tjoetjoe kita, jaitoe perkataan: “Betoel dia mati, tetapi dia mati tidak sebagai pengetjoet”.

Jadi sebaik nya kita cepat sadar sebelum negara ini masuk kedalam jurang sebab sudah melenceng dari cita-cita Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 . jangan biarkan kapal induk NKRI tenggelam didasar samudra ,Batalkan semua yang berkaitan dengan RUU BPIP kalau anda sekalian adalah agen dari Liberalisme , Kapitalisme ,kembalilah ke jalan yang lurus kembali pada Dasar Negara Pancasila kembali pada UUD 1945 asli 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dijiwai Piagam Jakarta.***

Prihandoyo Kuswanto

Ketua Pusat Studi Rumah Pancasila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.