Bisnis Besarkah atau Bisnis Kecil yang Terjadi di Wilayah Kerja Blok Rokan

oleh
Ilustrasi APJP. foto/ist

CERI – Data terakhir yang kami dapatkan di berita CNBC pada Senin 2 Agustus 2021 dalam acara perpisahan Management CPI dengan karyawannya, dimana pada tanggal 9 Agustus 2021, seluruh karyawannya sebanyak 2.700 orang akan berpindah kepada operator baru PT Pertamina Hulu Rokan. Tercatat, produksi minyak adalah sebanyak 160.646 BOPD.

Jika saat ini harga minyak 60 USD per Barrel dan kurs dollar 1 USD sama dengan Rp.14.500. Berarti nilai Rupiah dalam satu hari produksi minyak Provinsi Riau yang diambil adalah Rp 139.762 Milyar per hari atau setara dengan Rp 4,192 Triliun per bulan, atau sama dengan Rp 50,314 Triliun per tahun.

Dari data produksi yang pernah dipaparkan, produksi CPI pernah mencapai 1 Juta Barrel per hari. Berapa target yang akan diberikan pemerintah kepada PT Pertamina Hulu Rokan ke depan? Kemudian dalam aktifitas produksi tersebut berapa besar kegiatan ekonomi yang terjadi dalam proses produksi tersebut?

Provinsi Riau punya kepentingan di dalam semua proses tersebut, baik dalam bentuk Dana Bagi Hasil Migas (DBH ), PI 10% , dan aktifitas kegiatan ekonominya. Sehingga Provinsi Riau dan kabupaten atau kota yang bersentuhan dengan operasi, bisa memaksimalkan pemanfaatan ini untuk pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakatnya dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Seharusnya Provinsi Riau dan kabupaten atau kota yang bersentuhan dengan operasi Migas ini fokus pada proses bisnisnya, bukan pada hasilnya, karena ini bisnis besar.

Jadi, proses alih kelola Wilayah Kerja Rokan atau Blok Rokan dari PT CPI kepada PT PHR, adaalah suatu peristiwa besar yang harus dilakukan dengan hikmat dan dikawal dengan fokus terhadap prosesnya dengan cara diupdate setiap saat oleh tim yang berkompeten dan paham akan bisnis apa saja yang terjadi di dalamnya.

Baca Juga :   Chevron dan SKK Migas Pertanyakan LPPHI Tidak Menyeret PT PHR dalam Gugatan Pencemaran Limbah B3 TTM Blok Rokan

Sebagai praktisi Migas, saya melihat kejadian ini hanya seperti kejadian berakhirnya kontrak sebuah rumah besar dan tetangga pun tidak peduli. Padahal berakhirnya kontrak konsesi ini adalah peristiwa besar bagi Provinsi Riau dan Kabupaten serta Kota yang bersentuhan dengan operasi terhadap masyarakatnya dalam aktifitas ekonomi.

Setelah alih kelola, terjadi kemunduran atau kemajuankah, waktu yang akan menjawab. Di sini nanti akan terjawab kita fokus pada proses atau pada hasil. Salam Migas Indonesia.***

Aris Aruna
Sekjen Dewan Pimpinan Nasional (DPN)
Asosiasi Pengusaha Jasa Penunjang Migas Indonesia (APJPMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.