JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto menyoroti kerugian PT PLN (Persero) sebesar Rp3,88 triliun pada semester I 2026, ketika pendapatan perusahaan meningkat tetapi beban usaha turut melonjak. Ia meminta Direktur Utama Darmawan Prasodjo alias Darmo beserta jajaran direksi menjelaskan penyebab pembengkakan biaya dan langkah efisiensi yang dilakukan.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @darmadidurianto, Minggu (11/10/2026), Darmadi membandingkan kinerja keuangan PLN pada semester I 2026 dengan periode sebelumnya.
“Tahun lalu PLN masih untung Rp6,64 triliun. Semester I 2026 justru rugi Rp3,88 triliun. Pendapatan naik tetapi PLN malah merugi. Labanya tergerus ke mana?” kata Darmadi.
Ia mengungkapkan, pendapatan usaha PLN meningkat dari sekitar Rp281 triliun menjadi Rp327 triliun. Namun, beban usaha juga naik dari Rp251 triliun menjadi sekitar Rp300 triliun.
Darmadi secara khusus menyoroti biaya bahan bakar dan pelumas yang meningkat dari Rp94,9 triliun menjadi Rp118,3 triliun atau bertambah Rp23,37 triliun.
“Saya bertanya kepada dirut dan jajaran direksi PLN apa penyebab pembengkakan biaya ini? Di mana efisiensinya?” ujarnya.
Selain biaya bahan bakar, Darmadi menyoroti kenaikan kerugian kurs dari Rp8,7 triliun menjadi Rp18,5 triliun. Ia meminta direksi memerinci kontribusi setiap komponen biaya terhadap penurunan kinerja keuangan perusahaan.
Darmo Diminta Jelaskan Kesenjangan Pasokan LNG
Darmadi juga menyoroti kepastian pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk mendukung pembangkit PLN.
Berdasarkan paparan dalam rapat Komisi VI DPR RI yang disinggungnya, kebutuhan LNG PLN pada 2026 masih mengalami kesenjangan empat kargo. Sementara itu, pada 2027, kesenjangan pasokan disebut mencapai 30,2 kargo dari total kebutuhan 120 kargo.
Ia meminta PLN memastikan ketersediaan LNG untuk menjaga keandalan pembangkit sekaligus mengendalikan biaya penyediaan listrik. Menurut Darmadi, diperlukan koordinasi yang jelas antara Pertamina, PGN, PLN, dan Danantara.
“Sinergi BUMN harus menghasilkan pasokan yang pasti, harga kompetitif, dan tanggung jawab yang jelas,” katanya.
Darmadi menegaskan, kesenjangan pasokan LNG tidak serta-merta menjadi penyebab tunggal kerugian PLN. Karena itu, ia meminta direksi mengungkap akar persoalan keuangan perusahaan secara menyeluruh, termasuk rincian biaya pembangkitan, risiko nilai tukar, serta strategi pengamanan pasokan LNG untuk 2027.
Ia juga mendesak PLN menyampaikan langkah konkret dengan target perbaikan yang terukur.
“Dirut PLN harus menjelaskan angkanya, akar permasalahannya, dan target perbaikannya,” ujar Darmadi.
Menurut Darmadi, keterbukaan mengenai penyebab kerugian dan strategi pengendalian biaya diperlukan agar PLN dapat menjaga kinerja keuangan sekaligus memastikan pasokan listrik tetap andal dan efisien.(*)




