Ujaran Kebencian Termul Terhadap Kebijakan Prabowo Adalah Cermin Kelicikan Sikap Politik Jokowi

oleh

PASKA kebijakan presiden Prabowo memberikan abolisi dan amnesti kepada Tom Lembong dan Hasto, telah menuai kecaman keras dari kalangan relawan Jokowi, dengan narasi yang bernuansa hujatan dan ancaman. Reaksi kalangan relawan Jokowi, dalam bentuk kemarahan terhadap presiden Prabowo yang disampaikan di ruang publik, dari aspek etika politik, dipandang amat janggal. Tampaknya prilaku power syndrome tidak hanya terjangkit pada Jokowi, tetapi juga menular kepada para termul. Mereka dengan arogannya telah mencederai legitimasi kekuasaan Prabowo, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Statement politik termul di berbagai platform media sosial, dengan narasi yang amat provokatif dan hasutan kebencian terhadap presiden Prabowo, adalah budaya komunikasi politik destruktif kubu Jokowi yang tidak dikenal dalam khasanah demokrasi Indonesia. Otoritarian personality yang merasuki Jokowi, ternyata memiliki daya rusak yang amat kuat, terhadap nilai-nilai kemanusiaan, persatuan dan keadilan bagi rakyat Indonesia.

Menghadapi rongrongan terhadap demokrasi dan kewibawaan presiden, sudah saatnya presiden Prabowo secara terbuka dan terukur, menghentikan semua upaya inkonstitusional manuver relawan Jokowi, demi menjaga kelangsungan demokrasi dan penegakan hukum yang berkeadilan. Negara tidak boleh kalah oleh rongrongan pihak-pihak yang intoleran dengan kebijakan pemerintah untuk membangun penegakan hukum yang berlandaskan keadilan dan kebenaran.

Menjelang satu tahun kepemimpinan presiden Prabowo, diharapkan soal cawe-cawe Jokowi yang mengeksploitasi instrumen kekuasaan negara, dapat diselesaikan dengan tuntas. Mengingat tantangan paska setahun kepemimpinan Prabowo, adalah kerja besar membangun kembali stabilitas politik, ekonomi dan hukum, demi mengembalikan kewibawaan negara dan kesejahteraan rakyat.

Harapan rakyat Indonesia tidak muluk-muluk yaitu memimpikan sosok presiden yang berani mempertaruhkan jabatannya dan jiwa raganya, semata-mata demi kemaslahatan bangsa dan negara. Cukup 10 tahun bangsa ini, tersakiti oleh kebohongan dan tipu muslihat pemimpinnya sendiri. Kepada presiden Prabowo, keberhasilan amat ditentukan oleh kemampuan pemimpin secara cermat mengidentifikasi ancaman dan menyelesaikannya secara cepat, tepat dan terukur.***

Sri Radjasa MBA

Pemerhati Intelijen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.