Bapak Presiden, Diam Tidak Lagi Bermakna Emas

oleh

ATMOSFER negeri ini semakin pengap oleh hingar bingar, perseteruan publik dengan Jokowi dan para ternaknya. Ironinya intervensi kekuasaan hukum masih menunjukan perannya sebagai algojo Jokowi. Para tokoh yang menyuarakan kebohongan dan kejahatan Jokowi selama 10 tahun, selalu dihadapkan oleh tembok kekuasaan yang menghadang dan ancaman terhadap keselamatan pribadi, bahkan suara kebenaran berakhir di ruangan tahanan yang berwajib.

Fenomena penegakan hukum yang tidak menjunjung tinggi rasa keadilan dan aksi teror terhadap orang-orang yang menuntut keadilan, terjadi di era kepemimpinan presiden Prabowo, menyebabkan munculnya keraguan publik akan janji-janji presiden Prabowo.

Trend melemahnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan presiden Prabowo dan gerakan untuk menyeret Jokowi ke meja hijau, terus bergulir menggerakan hampir semua elemen bangsa, tidak dapat dianggap sepele, karena dapat menjadi bola salju yang dapat meluluh lantakan kekuasaan Prabowo.

Sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat, ketika Jokowi dan mesin politiknya terus menghantam lawan politiknya, dilakukan “di pekarangan rumah” presiden Prabowo. Bahkan Jokowi dengan leluasa menggunakan instrumen hukum yang berada dibawah kekuasaan Prabowo, untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran publik.

Beberapa kasus yang viral di antaranya, proses hukum terhadap Tom Lembong yang merupakan pesanan Jokowi, Kejagung sebagai algojo Jokowi secara serampangan menjerat Tom Lembong dengan tuduhan korupsi, tanpa dilengkapi oleh bukti-bukti.

Kemudian tanpa rasa risih pihak Polri, membabi buta berusaha menyelamatkan majikannya soal kasus ijazah Jokowi yang sudah terang benderang, dapat dibuktikan palsu. Belum lagi kasus yang patut diduga melibatkan keluarga Jokowi, terus ditutupi dan dihalang-halangi dengan cara-cara yang tidak beradab.

Publik juga dikagetkan oleh pencopotan Beator Suryadi sebagai staf ahli di Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, karena keras mengkritisi Jokowi soal ijazah, sebaliknya mengangkat Ade Armando sebagai Komisaris PLN, karena kemampuannya menjadi marketing bagi Gibran. Tindakan pelecehan terhadap purnawirawan pati TNI oleh relawan Jokowi, begitu massif menjadi tayangan di medsos.

Kemudian publik mulai bertanya-tanya, kemana presiden Prabowo? Sebagai pemegang kekuasaan negara dan pemerintahan, apakah presiden Prabowo masih ragu untuk menggunakan kekuasaanya demi melindungi rakyatnya? Bukankah perkembangan situasi yang semakin tidak menentu, adalah peluang presiden Prabowo untuk membuktikan kualitas kepemimpinannya sebagai negarawan.

Bahkan beredar rumor negatif, mungkin presiden Prabowo terjerat oleh “satanic trap” yang dipasang Jokowi. Saat ini rakyat menunggu sikap tegas presiden Prabowo, menghadapi operasi garis dalam Jokowi yang telah memporak porandakan kehidupan berbangsa dan negara.

Rakyat siap menjadi tameng menghadapi siasat jahat Jokowi, untuk melemahkan kepercayaan publik terhadap kinerja presiden Prabowo, dalam rangka merebut kembali kursi presiden di tahun 2029, kembali ke tangan dinasti Jokowi. Sikap diamnya presiden Prabowo, tidak lagi dimaknai emas, tetapi bisa jadi akan memicu bangkitnya people power, sebagai akumulasi dari keputusasaan sosial.***

Sri Radjasa MBA

Pemerhati Intelijen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.