CARUT marut penulisan historiografi sejarah Indonesia, akibat cawe-cawe antek-antek Belanda, untuk mengkerdilkan bangsa Indonesia, terus berlangsung hingga saat ini. Betapa mirisnya Indonesia sebagai bangsa besar, tetapi para petinggi bangsa ini hanya berdiam diri, menghadapi sikap arogan mantan penjajah Belanda yang hingga saat ini tidak mengakui secara de fakto kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Hal ini menimbulkan pertanyaan dibenak anak bangsa, “Jika vital interest dalam hubungan antar bangsa adalah persoalan kedaulatan, jadi apa artinya hubungan diplomatik Indonesia-Belanda, apabila tidak didasarkan oleh sikap saling menghargai kedaulatan masing-masing negara”.
Terkait dengan gagasan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, untuk menulis ulang sejarah Indonesia sebagai bentuk koreksi terhadap penulisan sejarah Indonesia yang difabrikasi, dipandang sebagai terobosan strategis bagi marwah bangsa Indonesia yang sesungguhnya memiliki sejarah gemilang, sebagai bangsa besar.
Rencana penulisan ulang sejarah Indonesia, menurut Fadli Zon akan dijadikan kado HUT RI ke 80 pada 17 Agustus 2025 nanti, telah dibentuk tim penulisan ulang sejarah Indonesia yang dipimpin oleh sejarawan Prof Susanto Zuhdi.
Dengan tidak bermaksud zuudzon terhadap ketua tim penulisan ulang sejarah Indonesia, tetapi merujuk kepada pengalaman Susanto Zuhdi sebagai editor buku “Kamus Sejarah Indonesia” terbitan Dirjen Kementerian Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun 2021, sangat banyak kesalahan jika tidak ingin dikatakan sebagai pemutar balikan sejarah Indonesia.
Dua jilid buku kamus sejarah Indonesia, telah menyajikan sejarah yang salah terhadap generasi penerus, karena buku kamus sejarah Indonesia menurut pakar penulisan historiografi sejarah Indonesia Batara Hutagalung, tidak menyajikan sejarah penjajahan Belanda dan lebih ironis lagi buku tersebut tidak juga menyajikan tentang sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945 – 1950.
Dalam buku kamus sejarah Indonesia, banyak nama pahlawan nasional yang tidak tercatat, seperti KH Hasyim Asy’ari dan Jenderal Purn Abdul Haris Nasution, sementara nama-nama tokoh PKI lengkap ditulis dalam buku tersebut. Bahkan nama pengusaha dari keturunan cina seperti Lim Sioe liong dan The kiat seng (Bob hasan) tertulis dalam buku tersebut.
Pertanyaannya apa jasa mereka bagi kemaslahatan bangsa Indonesia. Jangan sekali kali memutar balik sejarah Indonesia, jika tidak ingin melihat Indonesia tinggal sejarah.***
Sri Radjasa MBA
Pemerhati Intelijen



