BERAWAL dari gagasan inovatif rektor Universitas Malikussaleh Prof Dr Herman Fithra ST, tentang usulan penyelenggaraan upacara peringatan nasional HUT RI ke 80 dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo sebagai inspektur upacara, kiranya dapat diselenggarakan di Aceh.
Usulan Aceh sebagai tempat penyelenggaraan peringatan nasional HUT RI ke 80, dilatarbelakangi oleh pendekatan historis, dimana Aceh memainkan peran strategis untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, melalui siarah radio rimba raya (RRR) pada November 1949 yang dipancarkan dari dataran tinggi Gayo, memberitakan bahwa Indonesia masih ada, berhasil mematahkan propaganda Belanda melalui radio Hilversum yang menyatakan Indonesia sudah tidak ada.
Di samping itu penyelenggaraan HUT RI ke 80 di Aceh, menjadi simbol keberhasilan rekonsiliasi, sebagai tahapan strategis dari perdamaian Aceh.
Harapan besar rakyat Aceh, kiranya presiden Prabowo memberi respons positif terhadap usulan tersebut, terlebih lagi kegiatan di atas memiliki nilai sacral yang akan menstimulir upaya merekonstruksi imajinasi kebangsaan yang lebih bercirikan kenusantaraan.
Peringatan nasional HUT RI ke 8o di Aceh, dapat dijadikan momentum strategis oleh presiden Prabowo, untuk merajut kembali simpul-simpul semangat nasionalisme yang mulai redup, dengan mengangkat thema akbar “INDONESIA BANGKIT UNTUK MENANG”.***
Sri Radjasa MBA
Pemerhati Intelijen



