Dinilai Tak Sentuh Tokoh Penting Kasus Timah, CERI: Jangan Sampai Publik Menilai Kejagung Hanya Jadikan Harvey Moeis Cs Sebagai Tumbal

oleh

JAKARTA – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman berharap Kejaksaan Agung tidak tebang pilih dalam mengungkapkan kasus dugaan korupsi tata niaga timah di anak usaha MIND ID, yaitu di PT Timah Tbk yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat di publik.

Lanjut Yusri, jangan sampai publik berspekulasi bahwa penetapan 16 tersangka oleh Kejaksaan Agung bisa jadi mereka hanyalah pion saja, sehingga bisa jadi juga nama seperti Harvey Moeis dianggap hanya tumbal dari persoalan ini. Sebab, diduga ada tokoh-tokoh penting di atasnya yang hendak dilindungi, itu persepsi masyarakat pertambangan yang tau banyak soal praktek ilegal yang sudah berlangsung lama di wilayah IUP PT Timah Tbk.

“Robert Priantono Bonosustya (RBS) atau RBT yang pada hari Senin (1/4/2024 ) kemarin kembali diperiksa penyidik Pidsus Kejagung seharusnya dicecar diduga selaku ‘ultimate beneficial owner’ atau penerimaan manfaat terakhir dari bisnis ini setelah dia akusisi perusahaan smelter itu dari Tommy Winata,” terang Yusri kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/4/2024). 

Menurut Yusri ada yang aneh soal keterangan tim penyidik Pidsus terhadap pemeriksaan RBT yang kemaren katanya berlangsung sekitar 13 jam, namun menurut pengacara RBT, Ricky Saragih kepada media Rabu (3/4/2024) bahwa RBT tidak diperiksa, hanya menanda tangani BAP saja.

“Jika benar keterangan Ricky Saragih maka akan menimbulkan pertanyaaan aneh, ngapain RBT selama 13 jam di ruang penyidik Kejagung? Mana yang benar keterangan antara mereka ini?,” cecar Yusri. 

Selain itu, Yusri juga berharap RBS dalam pemeriksaannya berani membuka siapa-siapa saja pejabat maupun penegak hukum lokal dan pusat yang ikut menikmati korupsi penerimaan negara yang tidak dibayarkan tersebut sejak tahun 2015 hingga tahun 2023.

Baca Juga :   CERI: Anggota DPR dari Demokrat M Nasir Terkesan Asbun Soal Pipa Blok Rokan Rp 4,65 Triliun Mangkrak

Yusri menambahkan kasus dugaan korupsi timah ini seharusnya dibagi menjadi tiga kluster. Hal ini perlu dilakukan agar pengungkapannya menjadi jelas dan terang benderang peristiwa pidana semuanya. 

“Bagian pertama adalah penambang rakyat, penambang ilegal dan lainnya. Bagian kedua adalah pengolahan bijih timah oleh pemilik-pemilik smelter. Bagian ketiga adalah oknum PT Timah TBK sendiri dan siapa dalang-dalang pejabat yang ada di belakangnya,” jelas Yusri.

Sebelumnya Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) kembali memeriksa pengusaha Robert Bono Susatyo (RBS) terkait penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi tata niaga timah wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk tahun 2015 hingga 2022.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Ketut Sumedana, di Jakarta, Rabu (3/4/2024) menyebut ada dua saksi yang diperiksa kemarin, keduanya dari pihak swasta. Hingga saat ini Penyidik Jampidsus sudah memeriksa 174 orang saksi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.