Ada Kebenaran yang Terpenjarakan oleh Kekuasaan Politik dan Hukum di Era Jokowi

oleh

SEPULUH tahun Indonesia di bawah cengkraman rezim otoriterian personality Jokowi, tidak saja terjadi penjarahan uang rakyat secara masif dan tercampaknya silaturahmi kebangsaan sebagai perekat kedaulatan, tetapi masih menyisakan kejahatan luar biasa yang dilakukan oleh penguasa bar-bar dan penegak hukum berkedok adiyaksa.

Kini saatnya rakyat menggugat dan menuntut balas atas penderitaan luar biasa warga negara Indonesia yang kini teronggok di sudut Sukamiskin, tanpa pernah diberi haknya untuk melakukan pembelaan, terhadap tuduhan abal-abal dari oknum penegak hukum kacung oligarki.

 

Sejarah bangsa ini sudah cukup gelap, akibat prilaku para pemimpin yang tangannya berlumuran darah rakyat kecil, akibat watak pemimpin penyembah berhala kekuasaan.

Rakyat tidak boleh lagi takut, untuk mengungkap kebenaran, karena diam bukan lagi bermakna emas, tapi bisa jadi bagian dari kejahatan. Akibat dari sikap pengecut media massa, para aktivis mahasiswa, penggiat HAM dan pejuang hukum, telah menyebabkan sosok warga negara Indonesia harus terampas kemerdekaan serta hak miliknya dan tercampak di Sukamiskin, sebagai korban kekejaman oknum aparat hukum berkedok Adiyaksa di era Jokowi.

 

Kita adalah bangsa yang tak lekang menghadapi kejahatan hukum dan kemanusiaan oleh penguasa dan oknum aparat hukum berkedok Adiyaksa. Praktek politik sandera telah memberi dampak runtuhnya nilai-nilai luhur bangsa ini dan hanya menyisakan aib yang harus diungkap pahit sekalipun.

Rakyat tidak menghendaki presiden Prabowo mempertaruhkan harkat martabat bangsa, untuk menutupi aib para penjahat yang berkedok penguasa dan penegak hukum.

Rakyat sudah teraniaya akibat praktek politik sandera, kebenaran telah terinjak oleh para pelacur kekuasaan dan hukum. Kini saatnya rakyat menggugat, kebenaran tidak boleh teronggok di sudut Sukamiskin, sekarang juga harus dibebaskan. Kini saatnya Rakyat harus berani melawan arus, karena hanya tinja dan bangkai yang mengikuti arus.***

Sri Radjasa MBA

Pemerhati Intelijen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.