Anies, Pemimpin Yang Dirindukan

oleh
Anies Baswedan

MINGGU kemarin, 16 Oktober, bus way yang aku tumpangi tersendat, kemudian macet. Sama sekali tidak bergerak. Tepat di Air Mancur Bundaran HI. Aku pikir, kenapa orang-orang yang jogging di Car Free Day tidak mau berbagi jalan. Toh, hanya bus way yang lewat. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak.

Karena terlalu lama, beberapa penumpang bus penqsaran. Mereka berdiri. Tengok keluar dari kaca mobil bagian samping. Aku pun ikut berdiri. Kulihat lautan massa tumpah memadati kawasan HI. Gak ada selah bus way untuk lewat. 

Ada satu titik yang menggoda untuk dilihat. Kerumunan massa yang padat, mereka berdesakan. Sebagian besar mereka mereka pegang HP. Seperti sedang berebut untuk berfoto. Sepertinya, ada sosom yang mereka buru gambarnya. Entah siapa, kami para penumpang bus way meraba-raba.

Siapa gerangan seseorang yang jadi rebutan diantara lautan massa itu. Gimana kalau tidak ada prngamanan, lalu sesak napas. Kasus Stadion Kanjuran Malang bisa terulang di Jakarta,. Ini bahaya, pikirku.

Bus way mulai bisa bergerak kedepan. Massa memberi sedikit jalan. Tetap tersendat  Bus way makin dekat dengan sosok yang dikerumuni ribuan massa itu. Sepertinya, orang yang mereka kerumunin pakai helm. Sosok lelaki. Pakai rompi biru. Gak kelihatan wajahnya, karena tertutup helm dan massa yang berebut selfie.

Bus way meski tersendat, tapi sesekali bergerak. Makin lama makin dekat ke sosok itu. Benar, sosok laki-laki. Kami, para penumpang bus way semuanya berdiri. Penasaran. Kami amati lebih serius. Salah seorang penumpang bus teriak: “Itu Pak Anies Baswedan”. Ternyata, sosok itu adalah Anies Rasyid Baswedan. Gubernur DKI yang hari minggu kemarin berakhir masa baktinya sebagai Gubernur DKI.

Baca Juga :   Taliban Rasul

Gak jauh dari Anies berdiri, di tengah lautan massa, ada halte. Hanya jarak 10-20 meter. Aku putuskan turun. Gak ada niat sebelumnya untuk turun di situ. Memang gak ada kepentingan di situ. Karena ada konsentrasi massa, bagiku, ini menarik. Instingku sebagai peneliti dan penulis, seketika mendorongku untuk turun. Aku putuskan untuk turun, ingin tahu ada cerita dan peristiwa apa hari itu. Konsekuensinya? Aku harus rela jalan kaki.

Terharu. Lautan massa memadati kawasan Bundaharan HI hingga Jl. Thamrin. Di Jl Merdeka Selatan sampai Balaikota lebih padat lagi. Massa terkonsentrasi di situ. Aku sengaja jalan kaki, ingin tahu lebih dalam lagi.

Kawasan Bundahan HI, dan sepanjang jalan Thamrin hingga Jalan Merdeka Selatan sampai balaikota, massa betul-betul menumpuk. Tumpah ruah. Teriakan Anies Presiden menggema di sepanjang jalan itu. 

Anies gak bisa lewat. Massa merangsek. Pengawal harus kerja ekstra untuk menjaga dan melindungi Anies. Tak sigap, bisa terjadi hal-hal tak diinginkan. 

Sebagian besar massa ingin mengabadikan gambar. Mereka berfoto sebagai kenang-kenangan bersama Anies. Ini orang spesial di moment yang spesial. Sebagian berebut ingin bersalaman dan mengucapkan “Terima Kasih Pak Anies”.

Aku pantau dari jauh. Sekitar 20-50 meter. Sesekali mendekat untuk memastikan apa yang massa lakukan terhadap Anies. Ingin lihat suasananya, dan bagaimana ekspresi massa itu. Gak sedikit yang histeris dengan mata berkaca-kaca. Anies nampak berupaya jaga senyum, meski terlihat lelah dalam balutan keringat di wajahnya.

Sesampainya di Balaikota, teras kantor Anies penuh massa. Padat, dan tidak bisa dilewati. Halaman balaikota rapat sekali massa. Hampir gak ada selah untuk orang lewat. Teriakan semakin menggema: “Anies Presiden… Anies Presiden… Anies Presiden…”. Makin lama makin keras.

Baca Juga :   Makam 2 T

Fenomena sekali. Benar-benar fenomenal. Hampir gak pernah terjadi di sepanjang sejarah seorang pemimpin disambut massa sebesar ini ketika purna tugas. Penyambutan kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI yang legendaris kala itu, tidak sebesar ini.

Sosok Anies dipuji dan dikagumi oleh rakyatnya. Jakarta berubah, kata mereka. 70 persen lebih masyarakat Jakarta puas atas kinerja Anies  ini data survei.

Anies pemimpin di Jakarta. Maka yang paling obyektif adalah penilaian masyarakat Jakarta. Kenapa? Karena mereka yang melihat kinerja. Mereka lihat dari dekat dan merasakannya.

Mau tahu Anies, tanyalah rakyat Jakarta. Tanya secara random. Tanya pedagang gado-gado, siome, UMKM, mahasiswa, dan para pengguna transportasi umum. Ini lebih representatif dan lebih obyektif. 

Jangan tanya politisi. Jangan tanya orang di luar Jakarta, apalagi buzzer. Anda ingin tahu Anies, tanya orang Jawa Tengah. Ya pasti jawabannya: kata si anu, …infonya…menurut berita…. pasti gak jelas. Sanatnya menyesatkan. Lebih banyak hoaks dari pada benarnya.  Akhirnya, malah fitnah yang muncul.

Sukses tjdaknya Anies lihat tiga hal. Pertama, lihat prestasinya. Sederhana, apa pengahargaan yang diterima Jakarta, bandingkan dengan daerah lain. Bandingkan juga dengan Jakarta sebelumnya. Sesederhana itu. Polos, dan terima data apa adanya. Jangan dulu berasumsi atau beropini. Biarkan data bicara.

Kedua, lihat  dengan mata kepala sendiri, bagaimana Jakarta. Kelilingi kota Jakarta, apa yang berubah. Naik MRT, Busway dan angkutan umum.  Kelilingi kota tua, mampir ke Taman Ismail Marzuki (TIM), turun di Eko Park Tebet,. Sesekali turun di Jl. Soedirman, rasakan trotoar,nya atau naik sepeda. Gak perlu keluar uang ratusan ribu. Cukup puluhan ribu, anda bisa keliling Jakarta. Jakarta makin baik, atau makin buruk. 

Ketiga, tanya masyarakat Jakarta. Apa kesan dan yang mereka rasakan selama dipimpin Anies Baswedan. Saya pikir, ini lebih obyektif.

Baca Juga :   Meiji Restorasi Indonesia

Melihat animo masyarakat yang sambut Anies ketika pamitan ke para tokoh dan warga Jakarta, serta antusiasme mereka yang hadir di balaikota DKI hari minggu kemarin dengan keharuan yang luar biasa, ini memberi kesimpulan bahwa  “Anies memang Seorang Pemimpin Yang Dirindukan”. Kesimpulan ini tidak berlebihan jika anda beberapa hari terakhir ini mengikuti acara pamitan Anies dengan warga DKI melalui video-video yang viral, dan kemarin ikut menyaksikan bagaimana fenomenalnya Anies di mata rakyat Jakarta. Saya pikir wajar jika mereka kemudian merindukan Anies memimpin Indonesia kedepan.***

Jakarta, 17 Oktober 2022

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.