PATUNG naga yang menandai gerbang City of London (CoL) sering ditafsirkan sebagai simbol kekuasaan tersembunyi. Faktanya, lembaga-lembaga keuangan raksasa memang memiliki pengaruh besar — karena mereka mengelola aset dalam jumlah luar biasa.
Dunia keuangan adalah arena persaingan, bukan ruang komando tunggal. Uang memang panas, karena itu harus dikelola dengan tenang, tertata, berkarakter, memperhitungkan waktu dan mampu membangun fantasi. Maka, kepentingan utama bukan soal uang, tapi “sesuatu” di balik uang.
Lebih dari Konspirasi: Laboratorium kekuasaan Global
City of London (CoL) bukan pusat pemerintahan bayangan. Ia adalah sesuatu yang nyata — dan mungkin yang lebih penting: “ia adalah laboratorium kekuasaan ekonomi global.”
Di sini terbaca bahwa dalam dunia modern pun, kekuatan tidak selalu berbentuk senjata, kursi parlemen atau podium politik. Kekuasaan tidak harus berdasarkan elektoral. Justru kuatnya kekuasaan itu hadir dalam bentuk arus modal, regulasi pasar, dan jejaring institusi lintas negara.
Square Mile —istilah lain CoL— tidak menguasai dunia secara rahasia. Tetapi, dunia memang bergerak mengikuti logika yang diproduksi dari tempat ini. Raja Inggris pun tak berdaulat jika masuk ke area ini. Bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai tamu yang mengikuti protokol.
Pertanyaannya, “Siapa di balik area sakral yang hanya seluas 2,9 km ini?”
Knight Templar
Kita mundur sejenak ke masa silam. Sebelum ada nation-state (negara bangsa), dunia dikuasai oleh kerajaan. Tapi, di masa itupun kedaulatan raja tergantung pada masalah finansial. Kenapa? Biaya perang dan armada militer sangat mahal, membangun istana dan menggaji para bangsawan serta pegawai juga mahal, dan pajak rakyat tak pernah cukup. Lantas, apa solusinya? Utang! Siapa memberi utang? Mereka para bankir dan pedagang yang berkumpul di pusat-pusat perdagangan besar.
Nah, di titik inilah Knight Templar, kesatria Perang Salib masuk. Abad ke-12, Templar membangun markas di London bernama “The Temple” serta mendirikan “Temple Church” pada tahun 1185. Mereka menciptakan semacam surat kredit. Peziarah menitipkan uang di London, lalu menariknya di Yerusalem. Inilah bentuk paling awal dari sistem perbankan lintas wilayah.
Ketika Templar dibubarkan akibat tekanan politik dan finansial dari Raja Philip IV dari Prancis, wilayahnya tidak otomatis hilang. Wilayah itu berubah menjadi Inner Temple dan Middle Temple, itulah pusat profesi hukum Inggris Raya sampai hari ini. Sekilas, apa benang merahnya? Bahwa sistem hukum dan sistem keuangan sesungguhnya dibidani dari rahim yang sama.
Jelas, Knight Tempar itu bukan hanya tentara dalam Perang Salib, ia juga arsitek perbankan dan hukum global. Siklus ini membuktikan kekuasaan berproses melahirkan otoritas keuangan, dan daya keuangan mampu memperkokoh, melemahkan, atau bahkan menjatuhkan kekuasaan.
Contoh kasus. Saat peperangan terjadi —dari perang kolonial hingga perang modern— siapa yang membiayai? Sekali lagi, bukan sepenuhnya dibiayai pajak rakyat, karena tak akan cukup — tapi utang ke bank atau ke pemilik modal finansial. Dan negara yang berhutang harus membayarnya dari obligasi, bunga dan konsesi.
Tempo doeloe, Raja berutang ke bank, kini negara pun berutang juga ke bank. Dengan demikian, yang berubah hanya penguasa dan bentuk kekuasaannya: “sistemnya sama”. Pertanyaannya bukan apakah itu konspirasi, namun pertanyaan cerdasnya ialah, sistem mana dan siapa yang mengatur hidup kita? Jawabannya mengarah pada CoL. Ia bukan negara, ataupun institusi – ia adalah sistem.
Gilirannya tergambar, bahwa penguasa keuangan, termasuk industri perbankan — pada hakikatnya adalah shadow government.
Contoh lain. Ketika di abad pertengahan kerajaan masih ribut soal takhta dan darah biru, perkumpulan bankir dan pedagang di Guildhall sudah menguasai uang. Mereka memahami bahwa peperangan dan penyebaran armada membutuhkan biaya mahal, dan pajak rakyat tak bakal cukup membiayainya. Maka terjadilah barter kekuasaan. Raja menarik pinjaman utang, dan CoL dapat hak istimewa hukum yang tidak bisa disentuh oleh kerajaan. Lalu hasilnya apa? Area 2,9 km itu seperti negara di dalam negara di London — dengan polisi sendiri, sistem hukum sendiri, dan sistem politik yang “tidak ada urusan sama sekali dengan elektoral atau demokrasi”.
Demokrasi, HAM dan Standarisasi
Di mata City of London, dunia ini bukan tentang negara, tetapi gambaran dari perusahaan yang pusat syarafnya ada di Area 2,9 km, Square Mile. Demokrasi, HAM, dan standarisasi serta ukuran reputasi diproduksi di sini. Jadi, selain ia merupakan nilai atau sasaran, juga soal branding. Di balik branding itu tersimpan kepentingan: “mendikte dunia dengan atau tanpa senjata”. Kalau ada negara menolak sistem ini akan ada sanksi, kudeta, perang dan seterusnya. Semua dilakukan atas nama sistem yang mereka bangun — sebagaimana jatuhnya Soekarno, Soeharto, Saddam Husein di Irak, Moamar Gaddafi di Libya, Moh Morsi di Mesir, Bashir al Assad di Syria dan lainnya.
Sejak awal, tempat ini dibangun tidak untuk rakyat, bukan demi keadilan, tak pula untuk (kedaulatan) suara publik, namun untuk uang, uang dan uang. Motif mereka hanya satu: “keuntungan di atas kemanusiaan.”
Ketika terjadi krisis ekonomi, inflasi, atau utang negara yang tak pernah lunas, itu bukan kebetulan. Ini efek langsung kolaborasi antara CoL dengan “kaki-kaki”-nya. Covid-19, misalnya, atau dokumen Epstein, kebijakan Trump, dan krisis regional atau internasional — memang diciptakan.
Lagi-lagi, di sini patut dipahami bahwa financial military industrial complex bersama nilai-nilai atau isu yang menyertai di balik uang. Sayang, kita acapkali membahas uang berhenti terbatas pada fungsinya saja.
Dulu, Inggris menaklukkan dunia bukan semata armadanya kuat, namun karena kuat di modal. Ya. Square Mile membiayai ekspansi Inggris menjalankan peperangan. Koloni dijarah, pasar dikuasai. Bagi City of London, perang bukan soal ideologi, tetapi investasi. Kerajaan menduduki wilayah, Square Mile dapat bunga, kontrol pasar, dominasi sistem keuangan.
Inilah kenapa, Kekaisaran Inggris (Pax Britannica) bisa menguasai dunia. Mereka memiliki mesin uang tak terbatas. Pertanyaan menggelitik muncul, “Lantas, apa tugas kerajaan Inggris hari ini?” Jawaban vulgarnya, ia sekadar “satpam” dari sistem City of London. Maka CoL adalah produsen makna kehidupan yang sumbernya dari uang. Di sini sistem dipelihara, standarisasi, disiplin, dan reputasi — dibangun.
Ketika muncul pertanyaan di publik, “Kenapa banyak negara maju dan kaya, tapi utangnya juga sangat besar dan gila?” Jawabannya bukan di buku ekonomi sekolah, jawabannya ada di Area 2,9 km, Square Mile di London. Karena ia bukan distrik bisnis lazimnya, namun entitas amoral — yang menempatkan profit di atas nyawa dan keadilan.
Lewat bursa komoditas LME misalnya, mereka mengontrol emas, berlian, hingga tembaga dari tanah negara-negara berdaulat lain. Contoh tambang di Grasberg, Papua, logamnya diperdagangkan di bursa ini meski lingkungan Grasberg hancur dan HAM diinjak-injak.
Bagi mereka, transparansi itu sampah jika mengganggu likuiditas modal. Lewat pemodal besar, mereka mengatur bursa. Ingat dana talangan 700 milyar dolar AS era GW Bush dan Obama saat krisis keuangan global. Dana itu mengalir ke Wall Street sehingga bursa ini diduduki pendemo (Occupy Wall Street, 17 September 2011 hingga November 2011).
Kenapa semua itu bisa berlangsung hingga kini?
Hal tersebut berawal dari Revolusi Agung 1688. Ketika itu para bankir dan pedagang besar di London merasa letih dan kesal menyaksikan raja yang selalu gagal bayar utang. Solusinya adalah memangkas kuasa raja, lalu mendirikan Bank of England pada 1694. “Inilah titik balik paling jahat”.
Beban utang para elit dipindahkan ke pundak rakyat. Utang negara diciptakan dan pajak rakyat dijadikan jaminan. Jadi, setiap kali rakyat membayar pajak, tidak selalu untuk infrastruktur misalnya, atau untuk pendidikan, kesehatan dll — namun buat jaminan pemegang obligasi di Area 2,9 km ini. Lihat, di Indonesia hal itu terjadi dengan istilah ruang fiskal sempit disebabkan bayar cicilan dan bunga utang.
Penjajahan Sistem
Bagaimana entitas CoL menjaga agar modus ini tetap stabil?
Pertama, memakai tangan halus (soft power). Secara internal, di Parlemen Inggris ada “City Rememberancer”, pejabat yang tugasnya mengawasi semua undang-undang dan memastikan sistem CoL tetap aman.
Sedang di luar, ia memakai tangan NGO, media massa dan yayasan-yayasan. Seperti kita sebut di atas, misalnya, seperti WEF, NED, Open Sosiciety, Ford Foundation — mereka menjual paket demokrasi, HAM, standarisasi keuangan; sedangkan Financial Times, BBC, dan sejenisnya bertugas mengajari masyarakat global bahwa pasar bebas itu mulia, netral dan lainnya. Padahal, fungsi sebenarnya adalah “mendisiplinkan negara” yang keluar dari sistem ala Barat cq CoL.
Ya. Negara boleh ganti presiden berkali-kali. Tapi jika berjalannya mengganggu kepentingan Area 2,9 km maka akan dilabel otoriter, anti-demokrasi, melanggar HAM, merusak lingkungan hidup dan lainnya.
Jadi, demokrasi, HAM, transparansi dan standarisasi keuangan, serta pemeringkatan kredit itu hanya untuk mendisiplinkan negara yang hendak mandiri. Jelas untuk memastikan kepatuhan pada sistem mereka.
Kedua, memakai tangan besi (hard power). Ini sudah terjadi di Irak, Libya dan lainnya. Teraktual, lihatlah Venezuela. Sebanyak 31 ton emasnya disandera Bank of England dengan dalih rezim tidak demokratis.
Sungguh ironis. Emas milik negara berdaulat, namun yang menentukan boleh dipakai atau tidak, justru bankir di London. CoL sudah menciptakan ekosistem dimana kedaulatan negara hanya sampul luar. Di baliknya, ada intelijen Five eyes militer NATO di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS) — siap menjadi “satpam” guna memastikan kekayaan dunia tetap bermuara di Squre Mile, Area 2,9 km. Inilah penjajahan sistem, bukan lagi penjajahan wilayah sebagaimana terjadi di era klasik.
Jika kini terjadi keretakan hubungan antara AS dan NATO di bawah kepemimpinan Donald Trump adalah soal keretakan elit. Trump bertahan atas energi fosil, elit lain mendorong kehadiran energi terbarukan.
Trump masuk kripto sebagai jalur masuk ke mata uang digital, elit tertentu masih melihat bioteknologi masih belum kompatibel dengan uang digital. Trump memaksa peningkatan belanja militer, yang lain bertahan. Trump berkiprah dengan tarif, yang lain melihat, salah sendiri AS meninggalkan industrialisasi manufaktur dan terlalu fokus pada teknologi informasi.
Tapi, justru dengan dokumen Epstein dan kemunculan CoL, Trump sebenarnya dalam proses digeser. Sebagai imperium lama, CoL tetap bertaring mendunia. Ini bukti, dunia tergenggam oleh CoL, kelompok di balik Washington dan New York, serta pemain inti Tel Aviv.
Akankah makin busuk? Selama matahari terbit di Timur, jarum jam berputar dan proses itu terus berjalan. Kemunafikan dan multiple suitable standards yang konsisten justru menghantarnya ke puncak kebusukan.***
Jakarta, 14 Februari 2026
Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto



